Kamis, 30 April 2015

MAKALAH KONFLIK DALAM DUNIA USAHA DAN FRUSTASI DAN PENGARUHNYA



KONFLIK DALAM DUNIA USAHA
DAN
FRUSTASI DAN PENGARUHNYA


Diajukan sebagai Tugas pada Mata Kuliah
Manajemen Sumber Daya Manusia II”

Disusun Oleh :
Iin Wulandari Muslimat (2013054352)
Siti Risnawati (2013054493)
Wahyudi
 


JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGGERANG

Jl. Surya Kencana No. 1 Pamulang
No.Telp: (021)-7412566 / Fax: (021)-7412566, 7412491




KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas semua rahmat yang diberikan, sehingga mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia 2. 
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Konflik Dalam Dunia Usaha serta Frustasi dan Pengaruhnya, yang kami sajikan berdasarkan dari berbagai sumber informasi dan referensi.
Pada akhirnya penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, serta masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kelengkapan makalah ini.



Pamulang, 18 April 2015


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI  .................................................................................................. iii
BAB I     PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2    Rumusan Masalah...................................................................... 1
1.3    Tujuan Penulisan Makalah......................................................... 1

BAB II    PEMBAHASAN
                KONFLIK DALAM DUNIA USAHA
2.1 Pengertian Konflik .................................................................... 2
2.2 Konflik dan Suksesnya Organisasi................................................2
2.3 Konflik dan Perubahan Sosial................................................... 4
2.4 Teknik Menstimulasikan Konflik.............................................. 5
2.5 Manajemen Konflik................................................................... 6
              FRUSTASI DAN PENGARUHNYA
2.6 Pengertian Frustasi..................................................................... 6
2.7 Frustasi dan Pengaruhnya.......................................................... 7
2.8 Frustasi dan Kecelakaan Kerja................................................... 7
2.9 Gejala Reksasi dan Fiksasi......................................................... 8
2.10 Dampak Negatif Frustasi........................................................... 8

BAB III   PENUTUP
3.1                                                                                                     Kesimpulan   9
3.2  Saran......................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 10



BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Konflik merupakan fenomena dinamika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan organisasi, bahkan konflik selalu hadir dalam setiap hubungan kerja antara individu dan  kelompok. Tujuan organisasi pada dasarnya adalah memberikan tugas yang terpisah dan berbeda kepada masing-rnasing orang dan menjamin tugas -tugas tersebut terkoordinir menurut suatu cara yang dapat mencapai tujuan organisasi. Organisasi itu sendiri bukanlah suatu tujuan tetapi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Swastha, sebuah organisasi itu terdiri atas orang-orang yang melakukan tugas-tugas yang berbeda yang dikoordinir untuk mencapai tujuan  organisasi tersebut.
Frustasi dapat diartikan sebagai kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Pengertian lain dari frustasi adalah “rasa kecewa yang mendalam karena tujuan yang dikehendaki tak kunjung terlaksana”.

1.2    Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1.    Teknik menstimulasikan konflik
2.    Manajemen konflik
3.    Frustasi dan Reaksinya
4.    Dampak Negatif Frustasi

1.3    Tujuan Penulisan Makalah
1.  Sebagai pelengkap tugas Manajemen Sumber Daya Manusia.
2.  Alat pembelajaran bagi mahasisiwa tentang Konflik dan Frustasi.
3.  Untuk mengenali bagaimana konflik dan frustasi dalam organisasi.





BAB II
PEMBAHASAN

KONFLIK DALAM DUNIA USAHA
2.1.  Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.

2.2  Konflik dan Suksesnya Organisasi
Konflik itu mempunyai banyak jenis seperti yang dikatakan James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik, yaitu:
A. Konflik Intrapersonal
Adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sbb:
1. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
2. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan.
3. Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan tujuan yang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya acap kali menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan.
Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
1. Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
2. Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
3. Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
B.         Konflik Interpersonal
Yaitu konflik yang terjadi antar individu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan dimana hasil bersama sangat menentuan. Atau pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempengaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut. Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada.
C. Konflik Antara Angota dalam Satu Kelompok
Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif.  Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu
D. Konflik Antar Kelompok
Tingkat lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik antar kelompok. Seperti diketahui bahwa sebuah organisasi terbentuk dari beberapa kelompok kerja yang terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-unit disuatu kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain, maka manajer merupakan pihak yang harus bisa menjadi penghubung antara keduanya. Hubungan pertentangan ini apabila dipertahankan maka akan menjadi koordinasi dan integrasi kegiatan-kegiatan menjadi sulit.
Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama. Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja, merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok. Konflik antara organisasi.
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
E.         Konflik antar organisasi
Konflik juga bisa terjadi antara organisasi yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di pasar yang sama. Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidakcocokan suatu badan terhadap kinerja suatu organisasi.
Sebagai contoh badan serikat pekerja di cocok dengan perlakuan suatu perusahaan terhadap pekerja yang menjadi anggota serikatnya. Konflik ini dimulai dari ketidak sesuaian antara para manajer sebagai individu yang mewakili organisasi secara total. Pada situasi konflik seperti ini para manajer tingkat menengah kebawah bisa berperan sebagai penghubung-penghubung dengan pihak luar yang berhubungan dengan bidangnya.
Apabila konflik ini bisa diselesaikan dengan prioritas keorganisasian atau perbaikan pada kegiatan organisasi, maka konflik-konflik bisa dijadikan perbaikan demi kemajuan organisasi.
2.3 Konflik dan Perubahan Sosial
Nilai-nilai sosial, baik nilai kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak akan menyebabkan konflik sosial.
Misalnya industrialisasi yang mendadak di pedesaan akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat indiustri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong-royongan yang berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan structural yang disusun dalm organisasi formal perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Konflik terjadi karena dipicu oleh situasi-situasi yang mendukung, antara lain sebagai berikut.
1.    Konflik dalam keluarga, contoh:
a.    Perbedaan pendapat dalam pengelolaan usaha keluarga dengan orang tua, dimana orang tua tentu melindungi anak, sehingga anak merasa tidak dipercaya dan mampu dalam menjalankan usaha keluarga.
b.    Perbedaan selera makan orang tua dengan anak-anaknya sehingga orang tua sering makan di luar rumah.
c.    Perbedaan gaya hidup dan pola pikir antara suami istri.
2.    Konflik dengan mitra kerja
Contoh : Perbedaan persepsi dalam suatu masalah sehingga suasana kerja tidak menyenangkan.
3.    Konflik dengan atasan atau manajer
Contoh : gaji yang tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup.
4.    Konflik dengan bawahan atau pekerja
Contoh : turunnya tingkat produktivitas pekerja yang memnyebabkan omset produksi dan kualitas produk menurun tajam.
5.    Konflik agama
Contoh : munculnya fanatisme dan SARA
6.    Konflik pribadi
Contoh : keterbatasan kemampuan yang menyebabkan rasa tidak percaya diri dan minder.

2.4  Teknik Menstimulasikan Konflik
Beberapa metode atau teknik stimulasi yang mungkin dapat dipergunakan untuk menstimulasikan konflik sampai kepada tingkat yang fungsional adalah :
1. Komunikasi.
Dengan mempergunakan saluran komunikasi organisasi, manajer dapat menstimulasi konflik. Secara hati-hati informasi dapat dimasukkan ke dalam saluran formal untuk menciptakan keragu-raguan, reevaluasi atau konfrontasi.
2. Merubah struktur Organisasi.
Merubah organisasi merupakan salah satu teknik yang bermanfaat dalam memecahkan konflik antar kelompok. Sebaliknya perubahan ini justru merupakan cara yang baik pula dalam menciptakan konflik. Cara ini dapat menstimulasi konflik sehingga tercipta persaingan yang ujungnya adalah peningkatan kinerja.
3.  Menstimulasi persaingan.
Penggunaan berbagai insentif, seperti bonus, penghargaan bagi karyawan atau hasil karya yang menonjol, dapat menstimulasi adanya persaingan. Apabila dapat dipergunakan dengan tepat maka persaingan yang sehat itu dapat menciptakan konflik yang fungsional,
4. Memasukkan Orang luar ke dalam kelompok.
Salah satu teknik untuk mengangkat kembali citra suatu organisasi atau bagian, adalah memasukkan citra suatu organisasi atau bagian, adalah memasukkan, mengangkat atau memindahkan orang-orang yang sikapnya, nilainya dan latar belakangnya berbeda dari para anggota yang sekarang berada dalam sistem atau organisasi itu.


2.5              Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.
Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.

FRUSTASI DAN PENGARUHNYA
2.6              Pengertian Frustasi
Frustrasi dari bahasa Latin frustratio, yaitu perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Frustasi dapat diartikan juga sebagai keadaan terhambat dalam mencapai suatu tujuan (Markam,2003). Frustasi merupakan suatu keadaan ketegangan yang tak menyenangkan, dipenuhi perasaan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi yang disebabkan oleh rintangan dan hambatan. Frustrasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya. Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.
Konflik juga dapat menjadi sumber internal dari frustrasi saat seseorang mempunyai beberapa tujuan yang saling berinterferensi satu sama lain. Penyebab eksternal dari frustrasi mencakup kondisi-kondisi di luar diri seperti jalan yang macet, tidak punya uang, atau tidak kunjung mendapatkan jodoh. Frustasi adalah suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya putus pacar, perceraian, masalah kantor, masalah sekolah atau masalah yang tidak kunjung selesai. Frustasi ini pun terjadi juga bila tujuan yang dicapai mendapatkan rintangan.
Frustasi memiliki dua sisi, yaitu:
1. Frustasi adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan.
2. Frustasi adalah perasaan dan emosi yang menyertai fakta tersebut.



2.7              Frustasi dan Reaksinya
a.    Angry agression (agresi marah), yaitu suatu reaksi yang diarahkan kepada tujuan untuk menyakiti makhluk hidup lainnya
b.    Helplessness anxiety (ketidak berdayaan), yaitu suatu reaksi emosional dimana individu menunjukkan sikap yg tak berdaya, pasif, patah hati, sehingga menyebabkan sakit.
c.    Regression (kemunduran), yaitu suatu reaksi individu yg telah dewasa tapi menunjukkan tingkah laku yg umum bersifat kenakak-kanakan.
d.    Fiksasi, yaitu bentuk reaksi emosional dimana individu mengulang kembali sesuatu cara yg pernah memberikan hasil yg baik/memuaskan.
e.    Penekanan, yaitu individu menekan emosinya, atau berusaha melupakan sesuatu perbuatan/pengalaman yg dianggap pengalaman pahit /buruk.
f.     Reaction formation, yaitu frustasi yg dibuat-buat.
g.    Kompensasi, yaitu suatu bentuk reaksi frustasi dengan.cara  mencari sukses dengan jalan lain.
h.    Sublimasi, yaitu mengalihkan suatu tujuan/motif kepada suatu kegiatan lain yg lebih luhur.
i.      Melamun, bentuk reaksi frustasi dengan melarikan diri ke alam khayal yg mudah diciptakan

2.8              Frustasi dan Kecelakaan Kerja
Frustrasi sangat mempengaruhi sikap individu dan kelompok-kelompok kerja, sehingga segala peristiwa yang berlangsung diperusahaan bisa ditafsirkan secara salah. Jika frutrasi bersifat lunak bisa dicurahkan secara langsung pasa sumber penyebab frustrasi. Akan tetapi bila bersifat serius dan sudah berkecamuk pada sebagian besar pegawai dan buruh maka mereka menjadi sangat irrasional dan sentimental; bahkan juga bisa mendendam dan membenci yang dilontarkan pada orang-orang yang sama sekali tidak berdosa dan tidak menahu akan persoalan di perusahaan.
A.  Iklim frustasi di perusahaan itu mudah diketahui dengan adanya gejlaa-gejala sebagai berikut:
1.    Kritisme yang berlebihan terhadap majikan atau para menejer
2.    Produktivitas yang rendah
3.    Fitnahan-fitnahan terhadap atasan dan banyak pergunjingan
4.    Pelontaran kata-kata tidak puas dan banyak ekspresi kedongkolan hati
5.    Pengrusakan alat-alat dan mesin-mesin perusahaan
6.    Sikap-sikap polotis yang militan dan agresif di pihak karyawan
7.    Absensisme yang tinggi
8.    Banyaknya kasus neorotis dan psikosomatis (menyinggung raga dan jiwa) di kalangan  buruh dan pegawai juga para manajer.
B.   Kaitan frustasi dengan kecelakaan
Perusahaan yang dicekam oleh iklim frustasi, dimana buruh dan pegawai-pegawainya yang mengalami banyak frustasi, pasti menampilkan gejala-gejala frustasi sebagai berikut:
1.    Banyak terjadi kecelakaan dan berjangkit penyakit industri serta absensiisme yang tinggi
2.    Banyak timbul simpton neurosis dan kelelahan industry
3.    Sering terjadi pemogokan

2.9              Gejala Reksasi dan Fiksasi
A.  Regresi
Melangkah mundur, primitivisasi, atau kembali pada taraf perkembangan yang kekanak-kanakan. Sebagai contoh: Misalnya menjerit-jerit, manangis meraung-raung, membanting-banting kaki, mengisap ibu jari, ngompol, bicara gagap, merusak barang-barang, atau tingkah laku histeris lainnya.
B. Fiksasi
Pelekatan atau pembatasan tingkah laku pada pola tertentu. Sifat khas dari fiksasi ialah kekakuan yang cenderung selalu diulang-ulang. Sebagai contoh: Seorang karyawan yang terlalu sering mendapat hukuman keras mungkin akan mengembangkan kompulsi (dorongan) untuk melakukan hal-hal yang justru dilarang dengan membabi buta.

2.10 Dampak Negatif Frustasi
Dampak negatif pada diri seseorang dengan adanya frustasi bisa menyebabkan gangguan fisik dan psikis seseorang.
a.    Pemakaian obat terlarang dan alkohol  yang dikarenakan ketidakmatangan emosi.
b.    Kenakalan, adanya emosi yang labil sehingga cenderung bersikap agresif.
c.    Gangguan makan.
d.    Bunuh diri, seseorang yang seringkali berfikiran dangkal untuk menyelesaikan masalah.
e.    Mencari perhatian orang lain.
f.     Menyendiri dan menangis.
g.    Menyakiti diri sendiri dan histeris.
h.    Frustasi pun mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan.

Cara mencegah frustasi, yaitu:
a.    Dalam menyikapi suatu masalah harus dengan mengkontrol emosi.
b.    Berusaha bersikap sabar.
c.    Yakin bahwa suatu masalah nantinya akan ada jalan keluarnya.

  

BAB II
PENUTUP

3.1              Kesimpulan
Konflik adalah suatu proses antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya menjadi tidak berdaya. Konflik yang dapat terkontrol akan menghasilkan integrasi yang baik, namun sebaliknya integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan suatu konflik.
Frustasi merupakan suatu keadaan ketegangan yang tak menyenangkan, dipenuhi perasaan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi yang disebabkan oleh rintangan dan hambatan.Frustrasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya. Frustasi bisa menimbulkan dua kelompok diantaranya bisa menimbulkan situasi yang menguntungkan (positif) dan sebaliknya juga mengakibatkan timbulnya situasi yang destruktif merusak (negatif).

3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat membantu pembaca untuk memperoleh informasi mengenai Konflik dalam Dunia Usaha dan Frutasi dan Pengaruhnya. Namun kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu masukan serta saran dari para pembaca sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan tersebut.





DAFTAR PUSTAKA

http://www.artikelbagus.com/2012/04/gejala-dan-penyebab-stress.html
http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Frustrasi
http://diankyuu.blogspot.com/2013/06/konflik-dan-frustasi.html
http://yuandarussalam.blogspot.com/2013/10/-konflik.html
http://www.academia.edu/4481652/Manajemen_Konflik_Dalam_Organisasi
http://laisanurin.blogspot.com/2011/12/konflik-organisasi.html
Power point Manajemen Sumber Daya Manusia 2 tentang Frustasi


Tidak ada komentar: